Friday, 2 October 2015

Dari Porto Ke Klub Raksasa Eropa: Evolusi Jose Mourinho


Sedikit lebih tua, juga lebih gampang marah, dan rambutnya juga jauh lebih memutih. Itulah gambaran kasar dari Jose Mourinho, yang kembali ke Estadio Dragao dinihari nanti, stadion di mana ia memulai karir profesionalnya sebagai pelatih bersama FC Porto, tim yang akan dihadapi Chelsea, tim besutannya sekarang ini.
Tapi apakah hanya itu perubahan yang terlihat dari sosok Mourinho? Tentu tidak. Banyak hal lain yang membuatnya begitu spesial di dunia sepakbola. Perkembangan karirnya, begitu luasnya pengetahuan Mourinho akan strategi dan teknik, juga pendekatan yang diterapkannya ke tim, plus aura yang dimilikinya membuat Mourinho layak menobatkan dirinya sebagai 'Yang Spesial'.

"Saya kini lebih punya banyak gelar, lebih punya banyak uang, dan lebih punya keinginan untuk menang dibanding sebelumnya," demikian Mourinho menyebut perubahan yang terjadi pada dirinya selepas meninggalkan Porto beberapa tahun silam.

Tapi untuk tahun ini, Mourinho mungkin tidak bisa membanggakan catatan performanya bersama Chelsea. Tiga kekalahan, 14 gol kemasukan dan menduduki peringkat ke-15 di klasemen membuat Mourinho bisa jadi merasa sedikit minder. Torehan ini bahkan bisa dikatakan yang terburuk dalam karir Mourinho.

Namun demikian, kembali ke tempat di mana semuanya dimulai bisa menjadi hal yang patut disyukuri. Jika memang ada momentum di mana Mourinho ingin menemukan kembali ke sentuhan magisnya seperti di awal karirnya, sekarang adalah waktu yang tepat.

Bersama Porto, Mourinho terus memaksa timnya untuk tampil ngotot sepanjang laga. Meminjam pernyataan Arsene Wenger, Mourinho tak akan menarik rem tangan meski gelar juara sudah di tangan. Porto dijadikan Mourinho sebagai tim yang agresif, penuh determinasi, tak mengenal menyerah. Bukan tanpa alasan jika Mourinho menjadikan timnya seperti ini.

"Porto adalah tim yang bermaterikan pemain muda, dengan pelatih yang juga masih muda," canda Mourinho saat mengenang kembali masa-masa indahnya di Portugal.

Dalam dua musim, Porto menjadi tim yang sangat produktif, dan gawang yang sulit ditembus. Selisih gol +47 dan +44 menjadi buktinya. Dan penampilan di Eropa juga memiliki kesan yang bagus dan menarik perhatian, terutama saat melawan AS Monaco di final Liga Champions. Sebelum memastikan gelar juara, Mourinho dan Porto-nya menunjukkan penampilan memesona melawan Olympique Lyon.

Namun, Porto-nya Mourinho juga dikenal sebagai tim pengusung sepakbola negatif. Permainan bertahan yang efektif, dengan mengandalkan serangan balik cepat, kerap memaksa lawan harus bermain frustrasi sepanjang laga. Kemenangan atas Manchester United pada 2004 bisa dijadikan sebagai contoh. Mourinho lebih memilih menumpuk pemainnya di sektor belakang, rela untuk dikurung hampir sepanjang laga di daerah sendiri. Hasilnya, bisa dikatakan sukses besar.

Semangat itulah yang kemudian dibawanya ke Chelsea. Saat pertama datang ke Porto, Mourinho berkata kepada pemainnya di sesi latihan pertama bahwa mereka akan menjadi juara. Pesan yang sama juga disampaikannya ke John Terry cs di sesi latihan pertama, sebelum kemudian ia memproklamirkan dirinya sendiri sebagai 'The Special One'.


Segera setelah itu, Mourinho menjadikan dirinya sebagai sosok yang paling mencuri perhatian. Ia akan membawa semua orang dengan kekuatan dari karisma dan kepercayaan diri besar yang dimilikinya. Di bulan-bulan pertama di Inggris, kesannya sebagai seorang Mourinho, manajer sekaligus pelaku sepakbola, begitu mengena di benak semua orang.

Dari sudut pandang strategi, Mourinho menjadikan Chelsea di awal musim sebagai tim yang solid dan sangat berhati-hati. Mourinho menyebut Chelsea memasuki periode penyesuaian, karena ia memiliki misi tersendiri. Yang pertama adalah memasukkan mentalitas juara kepada pemainnya. Seperti halnya di Porto, Mourinho ingin menanamkan pemahaman bahwa semua tim bisa dikalahkan, dan Chelsea punya kemampuan mengalahkan semua tim. Tidak kalah juga sama pentingnya dengan kemenangan.

Tapi itu juga berimbas pada strategi, dan pemainnya diharapkan bisa memahami secara penuh strategi yang diterapkannya. Mourinho memperkenalkan format bermain dengan tiga gelandang, yang begitu sukses meraih gelar di Eropa, dengan Claude Makalele sebagai aktor utama di sektor tengah. Mourinho menjadikan Chelsea sebagai tim yang bisa mengendalikan jalannya pertandingan, tim belajar ntuk tidak kalah, dan mereka terus berkembang dengan kepercayaan diri.


Hasilnya, di akhir musim, Chelsea mencatat satu kekalahan, kemasukan 15 gol dan mencatat 25 clean sheets. Bahkan dalam dua musim, jumlah selisih gol mencapai 107 gol. Wow!

Dan pertarungan melawan Barcelona semakin mematangkan Mourinho. Di Chelsea, ada kontroversi terkait perseteruannya dengan Frank Rijkaard, yang memaksanya mendapat skors. Tapi bersama Internazionale beberapa tahun kemudian, Mourinho berhasil memaksa Barcelona bertekuk lutut dengan strategi yang tidak bisa dipikirkan oleh pelatih di era tersebut. Bermain dengan sepuluh pemain selama 60 menit di Nou Camp, Inter bisa mempecundangi Barcelona.

"Kebanyakan tim tak tahu bagaimana harus melawan Barcelona," ujar Mourinho.

"Bermain melawan tim seperti Barcelona, Anda harus tahu dengan tepat kualitas tim yang mereka miliki dan mengambil langkah yang tepat untuk dilakukan."



Dan dengan filosofi yang dibawanya, Mourinho melakukan hal yang perlu untuk bisa meraih kesuksesan, termasuk menggunakan cara yang mungkin menurut sejumlah pihak tidak ksatria sama sekali.

Tapi, bila Anda ingin melihat bagaimana evolusi seorang Mourinho, gambaran paling jelas adalah saat ia menukangi Real Madrid. Dan laga melawan Barcelona bisa menjadi momentum yang paling sesuai melihat perkembangan yang ditunjukkannya.

Di El Clasico pertamanya, Mourinho dan Real Madrid dipencundangi denganskor 5-0. Kala itu, Mourinho memainkan gaya bertahan yang terlalu terbuka. Tapi setelah laga itu, Mourinho dan Madrid terus memperpendek selisih kualitas dengan Barcelona sebelum akhirnya bisa meraih kemenangan atas Lionel Messi dkk. Merebut gelar juara juga berhasil mereka lakukan pada 2011/12.

Hebatnya, selain menjadikan Madrid sebagai tim dengan salah satu pertahanan terbaik, Mourinho juga mengubah timnya sebagai tim paling subur di jagat kompetisi dalam satu musim tersebut. Dari 46 laga di musim 2011/12, 174 gol bisa dilesakkan, dengan selisih gol mencapai 121. Jumlah angka yang bisa dimenangi mencapai 145 dengan rata-rata kemenangan mencapai 79,3 persen. Mourinho sudah menjadikan Madrid sebagai tim yang sangat menarik sebelum akhirnya ia hengkang ke London untuk melanjutkan karirnya bersama Chelsea, termasuk di musim ini.

Melihat rekam jejak karirnya, tak sedikit yang mengatakan jika klub yang ditanganinya menggunakan gaya bermain yang pragmatis. Ada juga yang mengatakan Mourinho sudah menjadikan timnya menganut gaya bermain menyerang, atau malah bertahan total dengan tidak terlalu mengandalkan keindahan dalam bermain dan hanya fokus pada hasil.

Tapi, yang bisa disimpulkan dari perjalanan karirnya selama lebih dari sepuluh tahun sebagai pelatih, Mourinho memiliki kemampuan beradaptasi dengan strategi apa pun yang dibutuhkan oleh timnya meraih kemenangan. Yang paling utama adalah kemenangan.




0 comments:

Post a Comment