Friday, 2 October 2015

Bagaimana Jose Mourinho Hentikan Era Iker Casillas Di Real Madrid





Dua sosok legendaris bertemu di Liga Champions dini hari nanti (30/9) saat Casillas akan berusaha membalas dendam pada Mourinho, pelatih yang membuat ia terlempar dari Bernabeu.

Ada ironi terselebung ketika Jose Mourinho dan Iker Casillas dipertemukan kembali di sebuah tempat yang melahirkan sosok 'The Special One' dan saat ini berubah menjadi “tempat pemakaman” bagi salah satu lawan tersengitnya. Ikon kiper Spanyol kini terpaksa harus menghabiskan karier senjanya di Porto, di bawah bayang-bayang orang yang mengawali kejatuhannya. Ketika Mourinho tiba di Real Madrid pada 2010 ketika Casillas sedang berada di puncak kariernya, namun kini ia telah tercampakkan sepenuhnya.

Di dalam perut Estadio do Dragao terkandung warisan Mourinho yang tak lekang oleh zaman melalui poster, banner, mosaik stadion, chant, dan yang paling krusial adalah trofi. Di bawah atap Porto yang sudah seperti sebuah museum untuk Mourinho, Casillas harus menjalani masa-masa final dalam kariernya.

Adalah Mourinho yang pertama kali mempertanyakan kapabilitas Casillas. Dialah yang pertama kali mengganggu otoritas sang kiper dan mengirimnya ke bangku cadangan. Sekarang mereka bertemu lagi.

“Apa yang akan saya ubah jika saya berkesempatan kembali ke tiga tahun lalu? Saya seharusnya memboyong Diego Lopez setelah tahun pertama saya di Madrid. Kami tidak cukup berusaha untuk mendatangkannya, ini menyedihkan,” ujar Mou pada 2013 yang tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa ia berperan dalam proses penggulingan Casillas di Madrid.

Mourinho memiliki kecenderungan untuk menulis kembali sejarah. Komentar jahat Mourinho tersebut seakan mengkhianati Casillas yang tampil apik di tahun pertama kebersamaan mereka. Saat itu, Casillas masih berusia 30 tahun dan sedang berada di puncak performa setelah mengangkat Piala Dunia dan melanjutkan kegemilangannya di musim 2010/11, namun Madrid harus puas finis runner-up di La Liga Spanyol, empat poin di belakang tim super Barcelona besutan Pep Guardiola.


Eliminasi di semi-final Liga Champions oleh lawan yang sama, yang memperpanjang penantian La Decima, memberikan tekanan kepada Mourinho. Beruntung, sang pelatih terselamatkan berkat trofi Copa del Rey yang hanya bisa dicapai berkat kegemilangan Casillas. Sang kiper melakukan penyelamatan yang tak terhitung jumlahnya di Mestalla. Pelatih kiper Silvino Louro menyebut finger-tip Casillas terhadap sepakan Andres Iniesta di final tersebut sebagai momen penyelamatan terbaik yang pernah ia lihat. Reaksi Mourinho juga sama, meski ia tidak pernah mengakuinya.

Casillas begitu bagus, sampai-sampai Mourinho menyanjungnya sebagai kiper terbaik di dunia pada 2011 dan mendukung sang kapten untuk mencaplok Ballon d’Or yang pada tahun itu dimenangi Lionel Messi. Meski gagal merengkuh Ballon d’Or, Casillas tetap mendapat penghargaan sebagai kiper terbaik di dunia versi IFFHS untuk yang keempat kalinya secara beruntun.

Di musim 2011/12, Madrid berhasil merebut titel La Liga setelah hanya kalah dua kali sepanjang musim dan memecahkan rekor 100 poin. Casillas sendiri hanya kebobolan satu gol lebih sedikit dan mencatatkan satu clean sheet lebih banyak ketimbang musim sebelumnya. Enam bulan berikutnya, di musim terakhir Mourinho, pengasingan Casillas dimulai. Terlepas dari protes besar para fans Madrid, benih-benih ketidakharmonisan kedua insan mulai terasa.

Mourinho mulai khawatir dengan performa Casillas yang tampak menunjukkan kecerobohan. Sang pelatih juga takut dengan kekuasaan sang kiper yang dikenal vokal di ruang ganti. Mourinho juga merasa tidak nyaman dengan kehadiran pacar Casillas -- jurnalis olahraga Sara Carbonero -- yang bisa mencuri informasi internal Madrid. Mourinho pun mengontrol sepenuhnya ruang ganti Madrid. Namun di dalam diri Casillas pula, Mou mendapati seorang pemain yang bisa menggoyahkan dirinya.


Dalam dua musim awal, kedua insan sempat beradu argumen terkait beberapa isu. Seperti filosofi serangan balik Mourinho yang cenderung mengarah ke taktik negatif, hingga penerapan trik-trik kotor yang merusak harmoni timnas Spanyol seiring duel El Clascio kerap berubah menjadi ajang gulat panas nan kontroversial.

Colokan mata terhadap Tito Vilanova dan penggemblengan mentalitas pragmatis kepada pemainnya ternyata belum cukup memuaskan hati Mourinho. Seiring terus menerapkan “ilmu gelapnya” di Madrid, Mourinho juga ingin mencopot ban kapten Casillas untuk diberikan kepada pemain outfield yang bisa mudah berdebat dengan wasit dan mempengaruhinya. Padahal, ban kapten Madrid secara tradisional harus diberikan kepada pemain yang punya masa bakti terpanjang, dalam hal ini Casillas.

Jelang dimulainya Euro 2012, Casillas merasa identitas Madrid yang dibentuk Mourinho tersebut memberikan efek negatif kepada timnas Spanyol. Casillas kemudian memanggil Xavi dan Carles Puyol untuk meredakan suasana panas Madrid-Barca dengan bermaaf-maafan. Namun, Mourinho merasa tindakan tersebut adalah sebuah pertanda kelemahan, sikap pengkhianatan dan akan memperkuat citra buruk Real Madrid. Vicente del Bosque kemudian mendeskripsikan bahwa telepon tersebut sebagai paku terakhir dari peti mati hubungannya dengan Mourinho.

Tetapi itu juga mnejadi kunci dari keharmonisan skuat La Roja dan menghadirkan lagi trofi major untuk mereka, di mana setelah itu performa Casillas tampak menurun. Tetapi keinginan Mourinho untuk mencadangkan dia melawan Malaga pada Desember 2012 dan memasang Antonio Adan, kiper 25 tahun dari tim akademi yang hanya pernah bermain starter di La Liga sebanak tiga kali dalam karirnya, menggambarkan bahwa itu bukanlah sepenuhnya keputusan teknis seperti yang diklaim sang pelatih.


Saat itu, Mourinho dan Casillas sangat jarang berbicara, sementara ada rumor konflik antara sang kiper dengan pemain yang berada di bawah agen Jorge Mendes, yang juga menjadi sekutu sejati (sekaligus agen) Mou. Madrid kalah dari Malaga dan mereka terus tertinggal dari Barca seiring kabar negatif terus muncul di koran-koran.Marca, misalnya, menerbitkan laporan detail terkait kekacauan di sesi latihan Madrid yang menunjukkan Mourinho sedang berkonflik dengan Casillas.

Tetapi retak tulang pada tangan dan perekrutan Diego Lipez pada  Januari 2013 lantas menambah bumbu cerita. Madridista mencela Mourinho karena terus melengserkan Casillas, namun pelatih asal Portugal itu langsung meresponsnya bahwa Madrid berhasil meraih 39 dari 48 poin yang tersedia di saat Lopez yang duduk di mistar gawang.

“Saya lebih menyukai Diego Lopez sebagai kiper ketimbang Casillas. Ini bukan karena faktor personal. Saya menyukai kiper yang mau keluar dari sarangnya yang tangguh di udara dan bisa bermain menggunakan kakinya,” jelas Mourinho. Apa yang diucapkan Mou itu ada dasarnya. Di musim itu, Lopez mencatatkan 1,81 tangkapan per laga, sedangkan Casillas hanya 0,94. Persentase penyelamatan Lopez juga unggul 13,3 persen ketimbang Casillas – membuat Lopez berada di posisi keempat dalam daftar kiper terbaik La Liga musim itu, sedangkan Casillas terperosok di posisi 24.

Kata-kata yang terus meluncur dari mulut Mourinho makin hari makin tidak disukai oleh pemainnya sendiri. Sergio Ramos menjadi yang paling bersuara lantang, sementara Pepe -- yang kerap dinilai merupakan sekutu Mourinho karena faktor kesamaan negara dan gaya bermainnya yang licik -- ternyata juga mengkritik komentar sang pelatih. Pepe, bersama Ramos dan Casillas, dirumorkan meminta Florentino Perez untuk memilih di antara mereka bertiga atau Mourinho.



Perez akhirnya lebih memilih bersama para pemain, meski mungkin saat ini ia berharap tidak melakukannya. Carlo Ancelotti kemudian datang sebagai suksesor Mourinho, namun tetap menempatkan Lopez sebagai kiper utama. Kendati Casillas berhasil membuktikan diri kepada Mourinho bahwa dirinya berhasil mempersembahkan La Decima, sang kiper tak bisa menampik fakta bahwa ia bersalah terhadap gol pembuka Diego Godin yang nyaris membuat Atletico Madrid keluar sebagai pemenang. Ketika berturut-turut Sergio Ramos, Gareth Bale, Marcelo, dan Cristiano Ronaldo akhirnya mampu membalikkan keadaan, tampak ada kelegaan luar biasa di wajah sang kapten.

Selama beberapa waktu, ditepikannya Casillas oleh Mourinho selalu digambarkan sebagai sesuatu yang bersifat pribadi, bentrok antara dua ego. Namun, performa jeblok sang kiper pada musim panas lalu di Brasil, terutama saat Spanyol dihantam Belanda 5-1, membuat suporter Madrid mulai berani melawan Casillas, sosok yang dulu menjadi pujaan. Fans Madrid berpikir dalam hati, mungkin selama ini Mourinho benar. Musim 2014/15 dilaluinya dengan siulan dan cemoohan dari publik Santiago Bernabeu seiring Madrid hanya sanggup meraih gelar minor, yakni Piala Dunia Antarklub dan Piala Super Eropa.

Di waktu yang bersamaan, mencuatlah nama David De Gea yang ironisnya merupakan klien dari agen Mourinho, Jorge Mendes. Casillas mungkin boleh unggul atas juniornya itu di level internasional, namun kiper Manchester United itu sejak lama dipandang sebagai pewaris takhta Casillas di Madrid, hingga klub terbesar di dunia melakukan kesalahan administrasi terbesar di dunia. Refleks cepat De Gea dan pengalaman matangnya di Inggris mengingatkan publik pada kemampuan Casillas muda, tetapi blunder di deadline day bursa transfer musim panas membuat semua menguap.

Pertanyaan kuncinya adalah, apakah Mourinho memang sudah memprediksi kemerosotan Casillas atau Mourinho sendiri yang menyebabkannya. Jawabannya mungkin terletak di tengah-tengah. Dominasi kiper berusia 34 tahun itu tidak akan berlangsung selamanya. Andai Mourinho tidak pernah melatih Madrid sekalipun, Los Blancos tetap harus mencari suksesor Casillas, tetapi mungkin saja Casillas bisa pergi dengan kepala lebih tegak jika tidak ada perang dengan Mourinho. Sang pelatih menemukan titik lemah dan mempercepat kejatuhan Casillas. Namun, jika masih ada kehidupan di dalam diri sang singa terluka, Casillas tidak punya tempat dan waktu yang lebih sempurna untuk membuktikannya, bersama Porto di Liga Champions.






0 comments:

Post a Comment